Langsung ke konten utama

JURNAL ILMIAH

 

KURIKULUM TERARAH BERBASIS KETUNTASAN   Mewujudkan Guru Tuntas Mengajar dan Siswa Tuntas Belajar dalam Pendidikan Indonesia

Hary Setyawan, S.Pd.I.
Guru Pendidikan Agama Islam

 

Abstrak

Pendidikan Indonesia saat ini menghadapi tantangan yang kompleks, tidak hanya terkait kualitas hasil belajar peserta didik, tetapi juga efektivitas pelaksanaan pembelajaran di sekolah. Di satu sisi, pemerintah mendorong implementasi pembelajaran mendalam (deep learning) yang menekankan pembelajaran bermakna (meaningful), berkesadaran (mindful), dan menggembirakan (joyful). Di sisi lain, guru masih menghadapi berbagai beban administratif yang mengurangi fokus terhadap tugas utama sebagai pendidik. Artikel ini bertujuan menganalisis pentingnya pengembangan kurikulum yang berorientasi pada ketuntasan mengajar dan ketuntasan belajar sebagai upaya mewujudkan pendidikan Indonesia yang lebih terarah. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan pendekatan deskriptif-analitis. Hasil kajian menunjukkan bahwa keberhasilan kurikulum tidak hanya ditentukan oleh kelengkapan materi, tetapi juga oleh kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran secara optimal dan kemampuan peserta didik dalam memahami materi secara mendalam. Oleh karena itu, diperlukan penyederhanaan beban administratif guru, penguatan kompetensi esensial, dan penerapan pembelajaran mendalam yang berpusat pada peserta didik.

Kata Kunci: kurikulum, guru tuntas mengajar, siswa tuntas belajar, pembelajaran mendalam, pendidikan Indonesia.

 

Pendahuluan

Pendidikan merupakan instrumen utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Berbagai perubahan kurikulum yang telah diterapkan di Indonesia menunjukkan adanya upaya berkelanjutan untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional. Namun demikian, perubahan kurikulum belum sepenuhnya mampu menjawab tantangan mendasar berupa rendahnya kualitas pemahaman peserta didik dan tingginya beban kerja guru di lapangan.

Konsep pembelajaran mendalam (deep learning) yang saat ini menjadi salah satu arah kebijakan pendidikan nasional menekankan pentingnya pemahaman konsep secara utuh, kemampuan berpikir kritis, serta keterkaitan pembelajaran dengan kehidupan nyata. Pembelajaran mendalam mengedepankan prinsip meaningful learning, mindful learning, dan joyful learning sebagai fondasi proses belajar yang berkualitas.

Namun implementasi konsep tersebut menghadapi berbagai kendala. Guru sering kali harus membagi perhatian antara tugas pembelajaran dan berbagai tugas administratif sekolah sehingga waktu yang tersedia untuk merancang dan melaksanakan pembelajaran berkualitas menjadi terbatas. Kondisi ini memunculkan pertanyaan penting: bagaimana kurikulum Indonesia dapat dirancang agar mampu mewujudkan guru tuntas mengajar dan siswa tuntas belajar?

 

Metode Penelitian

Artikel ini menggunakan metode studi kepustakaan (library research) dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Data diperoleh dari berbagai artikel ilmiah, jurnal pendidikan, dan dokumen kebijakan pendidikan yang relevan dengan pembelajaran mendalam, implementasi kurikulum, dan tantangan profesi guru di Indonesia.

Data dianalisis melalui teknik analisis isi (content analysis) untuk memperoleh gambaran mengenai hubungan antara desain kurikulum, beban kerja guru, dan ketuntasan belajar peserta didik.

 

Hasil dan Pembahasan

1. Hakikat Guru Tuntas Mengajar

Selama ini keberhasilan guru sering diukur berdasarkan ketercapaian target materi pembelajaran. Padahal, hakikat mengajar tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga memastikan peserta didik memahami, menghayati, dan mampu menerapkan pengetahuan yang diperoleh.

Guru dikatakan tuntas mengajar apabila tujuan pembelajaran tercapai, peserta didik mengalami perkembangan pengetahuan, keterampilan, dan sikap, serta proses pembelajaran berlangsung secara efektif dan bermakna.

Dalam paradigma pembelajaran mendalam, keberhasilan guru ditentukan oleh kemampuannya menciptakan pengalaman belajar yang bermakna, berkesadaran, dan menyenangkan bagi peserta didik.

2. Tantangan Guru dalam Implementasi Kurikulum

Realitas di lapangan menunjukkan bahwa guru saat ini tidak hanya berperan sebagai pendidik. Banyak guru merangkap tugas sebagai operator Dapodik, pengelola aset sekolah, bendahara BOS, petugas perpustakaan, pelaksana program sekolah, hingga pengurus organisasi profesi maupun kemasyarakatan.

Akibatnya, sebagian waktu dan energi guru tersita untuk pekerjaan administratif. Kondisi ini berdampak pada berkurangnya waktu untuk:

  1. Menyusun perencanaan pembelajaran.
  2. Mengembangkan media pembelajaran.
  3. Melaksanakan asesmen diagnostik.
  4. Memberikan pendampingan individual kepada peserta didik.
  5. Melakukan refleksi dan evaluasi pembelajaran.

Padahal kualitas pembelajaran sangat ditentukan oleh intensitas interaksi antara guru dan peserta didik. Ketika guru terlalu banyak dibebani pekerjaan non-pembelajaran, proses pendidikan kehilangan salah satu unsur terpentingnya, yaitu kehadiran guru secara optimal dalam mendampingi peserta didik.

3. Siswa Tuntas Belajar sebagai Tujuan Utama

Ketuntasan belajar tidak dapat diukur semata-mata melalui nilai ujian. Peserta didik dikatakan tuntas belajar apabila mampu memahami konsep secara mendalam, menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan sehari-hari, serta menunjukkan perubahan perilaku yang positif.

Pendekatan pembelajaran mendalam yang saat ini dikembangkan menekankan bahwa peserta didik harus memahami konsep secara menyeluruh dan mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata, bukan sekadar menghafal informasi.

Dalam Pendidikan Agama Islam, misalnya, ketuntasan belajar tidak hanya tercermin dari kemampuan menghafal ayat atau menjawab soal, tetapi juga dari kemampuan peserta didik menerapkan nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, disiplin, dan toleransi dalam kehidupan sehari-hari.

4. Kurikulum yang Terarah untuk Indonesia

Kurikulum yang ideal bagi Indonesia perlu dibangun berdasarkan prinsip-prinsip berikut:

a. Fokus pada Kompetensi Esensial

Materi pembelajaran perlu diprioritaskan pada kompetensi yang benar-benar penting dan relevan dengan kebutuhan peserta didik.

b. Penguatan Pembelajaran Mendalam

Pembelajaran harus mendorong peserta didik untuk berpikir kritis, memecahkan masalah, dan menghubungkan pembelajaran dengan kehidupan nyata. Prinsip meaningful, mindful, dan joyful learning terbukti mendukung pembelajaran yang lebih efektif dan bermakna.

c. Penyederhanaan Administrasi Guru

Digitalisasi dan sistem manajemen pendidikan perlu diarahkan untuk mengurangi beban administratif guru sehingga mereka dapat lebih fokus pada pembelajaran.

d. Penguatan Pendidikan Karakter

Kurikulum tidak hanya mengejar kompetensi akademik, tetapi juga membentuk karakter peserta didik melalui pembiasaan nilai-nilai moral, etika, dan tanggung jawab sosial.

e. Asesmen Berorientasi Perbaikan Pembelajaran

Asesmen harus digunakan sebagai alat untuk memperbaiki proses belajar, bukan sekadar menentukan nilai akhir peserta didik.

 

Kesimpulan

Kurikulum yang baik bagi Indonesia adalah kurikulum yang mampu memastikan guru tuntas mengajar dan siswa tuntas belajar. Guru perlu diberikan ruang yang lebih luas untuk menjalankan fungsi profesionalnya sebagai pendidik melalui pengurangan beban administratif yang berlebihan. Di sisi lain, peserta didik perlu memperoleh pengalaman belajar yang mendalam, bermakna, dan relevan dengan kehidupan nyata.

Pendidikan Indonesia yang terarah hanya dapat terwujud apabila kurikulum dirancang dengan mempertimbangkan kebutuhan peserta didik sekaligus realitas kerja guru di lapangan. Ketika guru dapat fokus mengajar dan peserta didik dapat belajar secara optimal, maka tujuan pendidikan nasional untuk menghasilkan generasi yang berilmu, berkarakter, dan berdaya saing akan lebih mudah diwujudkan.

 

Daftar Pustaka

  • Widyastuti, dkk. (2025). Implementasi Prinsip Pengelolaan Meaningful, Mindful, dan Joyful Learning dalam Proses Pembelajaran Mendalam. Jurnal Obsesi.
  • Rahmawati, L., dkk. (2025). Strategi Penerapan Prinsip Deep Learning untuk Mewujudkan Pembelajaran Bermakna dalam Konteks Kurikulum Merdeka di Sekolah Dasar. JISEP.
  • Feri, M. (2025). Penerapan Pembelajaran Mendalam Melalui Joyful, Meaningful, dan Mindful Learning: Tinjauan Literatur. IBTIDA Jurnal Kajian Pendidikan Dasar.
  • Irfanuddin, F., Selamat, & Widodo, H. (2025). Analisis Implementasi Pembelajaran Mendalam dalam Kurikulum PAI di SD Negeri 125 Ogan Komering Ulu. JPPI.
  • Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. (2025). Mendikdasmen Tekankan Peran Deep Learning dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan Indonesia.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAPSI KE-26 Banyumas Hebat

  BANYUMAS RAIH SEJUMLAH KEJUARAAN  PADA MAPSI SD KE-26  TINGKAT PROVINSI JAWA TENGAH PURBALINGGA – Kafilah Kabupaten Banyumas kembali menorehkan prestasi membanggakan dalam ajang Lomba Mata Pelajaran dan Seni Islami (MAPSI) Sekolah Dasar ke-26 Tingkat Provinsi Jawa Tengah, yang dilaksanakan pada 17–18 Oktober 2025 dan ditutup dengan pengumuman kejuaraan pada 19 Oktober 2025. Kegiatan bergengsi ini digelar di Kampus II Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN SAIZU) di Purbalingga. Dalam ajang yang diikuti oleh peserta dari seluruh kabupaten/kota di Jawa Tengah ini, Kafilah Banyumas berhasil meraih sejumlah prestasi membanggakan, di antaranya: Juara 1 Cerita Islami Putra Juara 1 Macapat Putri Juara 2 Kaligrafi Putra Juara Harapan 1 Wudhu dan Shalat Putri Juara Harapan 1 Macapat Putra Juara Harapan 2 Azan dan Iqomah Juara Harapan 3 Khot Putra Juara Harapan 3 TIKI Putri Juara Harapan 1 Cerita Islami Putri Juara Harapan 2 Du...

Logo KKG PAI SD Somagede

Diseminasi Pembelajaran Mendalam dan Growth Mindset, KKG PAI Somagede

  Diseminasi Pembelajaran Mendalam dan Growth Mindset, KKG PAI Somagede KG PAI Somagede Gelar Diseminasi Pembelajaran Mendalam di SD Negeri 1 Pias Somagede, 17 September 2025  – Kelompok Kerja Guru Pendidikan Agama Islam (KKG PAI) Kecamatan Somagede kembali menggelar kegiatan rutin dalam rangka meningkatkan kompetensi dan kualitas pembelajaran. Kegiatan kali ini dilaksanakan di  SD Negeri 1 Piasa, Kecamatan Somagede , dengan tema utama  Diseminasi Pembelajaran Mendalam . Acara dibuka dengan sambutan hangat dari  Kepala SD Negeri 1 Piasa, Ibu Paryati, S.Pd.SD. , yang menyampaikan rasa syukur serta ucapan selamat datang kepada seluruh guru PAI yang hadir. Beliau menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi wadah penting bagi guru untuk terus berkembang dan berbagi pengetahuan demi kemajuan peserta didik. Selanjutnya, sambutan juga disampaikan oleh  Ketua KKG PAI SD Somagede, Hary Setyawan, S.Pd.I. . Dalam arahannya, beliau menekankan pentingnya soliditas, kekompakan...